Selasa, 17 Oktober 2017

Cerita Pendek Alur Mundur


Nah setelah begitu sekian lamanya saya menghilang, kini saya kembali dengan membawakan cerita pendek ( cerpen ) beralur mundur atau flashback. Cerpen ini karangan saya sendiri lhooo!
Tapi sebelumnya saya minta maaf dulu yak kalo ada kata - kata yang typo atau tidak enak dibaca hehe. Namanya juga masih belajar wkwk.



SELAMAT MEMBACAAAA!!!


Terlambat
 Karya : Nida Salma Fauziyyah


Sore itu, aku sengaja menyempatkan diri untuk bertemu dengannya. Kepulanganku ke Bandung yang merupakan sebuah momen langka tak mau aku sia - siakan tanpa bertemu dengan dirinya. Ku hampiri dirinya kemudian duduk tepat di depannya. Di bawah rintik hujan kupandangi dirinya. Dirinya yang sampai saat ini masih menjadi pengisi di dalam hati ini. Dirinya yang nampak begitu cantik dengan flower crown  yang kukenakan pada kepalanya. Kupandangi lagi lekat - lekat dirinya. Hingga nampak terbayang dalam benak, wajah angkuhnya yang selalu ia tunjukkan. Dalam waktu yang bersamaan juga terbayang wajahnya yang begitu menggemaskan saat ia sedang memintaku untuk menemaninya membeli es krim. Di sela - sela lamunanku, akupun menyadari bahwa hujan ternyata sudah semakin deras. Kemudian kupakaikan jaketku padanya, karena aku tidak mau jika orang yang aku sayangi merasa kedinginan. Lalu aku pun tersenyum, mengingat setahun lalu saat aku pertama kali bertemu dengannya. Dan di situlah kisah aku dengannya berawal.



**

Kisah itu berawal di saat aku mulai duduk di bangku kelas 12 di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri di Bandung. Namaku Novan Steffano, aku yang waktu itu sering disebut sebagai cowok kaku. Yang kerjanya hanya membaca buku dan belajar. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan menyendiri sambil membaca buku daripada harus bergaul ataupun nongkrong dengan teman sebayaku. Karena menurutku itu semua hanya buang - buang waktu dan tak ada gunanya sama sekali. Mengobrol dengan teman pun hanya kulakukan seperlunya saja. Sebenarnya aku bukan orang yang anti sosial, hanya saja aku belum bisa menemukan seseorang yang dapat benar - benar aku anggap sebagai teman.
Sore itu, setelah bel pulang aku beranjak menuju perpustakaan. Tanpa ku kira sebelumnya, disaat itulah aku pertama kali bertemu dengan dirinya.
BRUKKK...!
"Hei! Anda punya mata? Kalau jalan lihat - lihat dulu bisa?" Ucapku geram pada seseorang yang menabrakku.
"Ya udah biasa aja dong! Gak usah sewot." Ucapnya seraya marah kepadaku.
"Saya bukan sewot. Lagian, memang Anda sendiri yang jalan tidak lihat - lihat!" Aku pun membalas dan tak mau kalah dengannya. Saat aku mendongakkan kepala ternyata yang telah menabrakku adalah seorang gadis yang sepertinya murid baru. Dari cara berpakaian dan bicaranya saja sudah terlihat bahwa dia bukanlah gadis yang memiliki prilaku yang baik.
"Ya udah sih gak usah diperpanjang juga kali. Lagian gue juga gak sengaja!" Ia pun membalas dan kelihatannya juga ia tak mau kalah denganku.
"Ya sudah saya tidak mau memperpanjang urusan dengan orang seperti anda. Masih banyak hal penting yang saya harus lakukan." Karena kesal akupun pergi meninggalkan gadis itu dan segera menuju ke perpustakaan.
Setelah sampai di perpustakaan aku pun langsung membuka daftar buku apa saja yang harus ku pinjam dan mulai mencarinya. Hampir setengah jam aku berada di perpustakaan, aku pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Namun, aku menyadari bahwa kunci motor yang seharusnya ada di saku celanaku tidak ada. Oh, mungkin terjatuh saat aku bertabrakan dengan gadis tadi. Aku pun bergegas menuju tempat dimana aku dan gadis itu bertubrukan. Dan ternyata kunci motorku tidak berada disana. Haduh, bagaimana aku bisa pulang jika kunci motor itu tidak ada. Pikiranku lalu tertuju pada gadis itu, mungkin tadi kunci motorku terjatuh dan diambil olehnya. Aku pun bergegas untuk mencari gadis itu bagaimana pun caranya. Dan akhirnya aku menemukan gadis itu sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Tanpa pikir panjang aku pun langsung menghampirinya.
"Hei! Apa anda tadi menemukan kunci motor saya?" Tanyaku pada gadis itu.
"Kunci motor apaan?" Ucapnya balik bertanya membuatku geram.
"Ya kunci motor! Pokoknya kunci motor, anda kan tadi yang menabrak saya. Pasti kunci motor saya terjatuh dan anda yang ambil kan?!" Ucapku geram karena ingin segera pulang dan enggan berurusan dengan gadis itu.
"Mending sekarang kita kenalan dulu deh. Nama gue Latisya Aqilla Zamora loe bisa panggil gue Tisya. Nama loe siapa?" Bukannya mengembalikkan kunci motorku ia malah mengajakku berkenalan. Sungguh cewek yang aneh gumamku saat itu.
"Anda ini sebenarnya kenapa?! Saya bertanya pada anda untuk mencari kunci motor saya. Bukan untuk berkenalan, cepat mana kunci motor saya?!" Ucapku tak sabar dengan kekesalan yang sudah sangat memuncak padanya.
"Kaku amat sih loe jadi cowok. Iya iya kunci motor loe emang ada di gue. Nihhh!" Ucapnya sambil menunjukkan kunci motorku.
"Mana sini kembalikan!" Saat aku ingin mengambil kunci itu di tangannya ia malah menyembunyikan kunci tersebut ke ke belakang punggunggnya.
"Eittsss, gue bakal kembaliin kunci loe tapi syaratnya loe harus anterin gue pulang ya ya ya plis!" Ucapnya memohon - mohon padaku saat itu.
"Enggak - enggak! Saya mau langsung pulang." Jawabku menolak karena aku memang sangat - sangat ingin langsung pulang melepas penat.
"Ya udah  gak akan gue balikin!" Ucap gadis itu.
Aku pun berfikir keras bagaimana caranya agar kunci motorku dapat segera kembali. Kulihat gadis itu mulai lengah dan tanpa basa - basi ku ambil kunci motorku lalu berlari ke parkiran. Saat aku menoleh ke belakang tampak gadis itu mulai mengejar, dengan segera ku percepat langkah berlariku bukan lagi menuju parkiran. Namun gadis itu tetap saja mengejar meskipun aku telah berlari hingga ke luar area sekolah dan pas sekali! Di ujung perempatan jalan ada sebuah rumah yang ditumbuhi banyak semak - semak, aku pun bersembunyi di situ.
"Hhhh... Kemana sih cowo tadi, perasaan larinya cepet amat. Mana gue gak tau jalan daerah sini lagi. Loe emang bego Tis! Harusnya tadi loe gak usah ngejar cowok kaku itu." Ujarnya tampak kesal dan memaki diri sendiri karena tak bisa mengejarku.
Dari tempat persembunyian, ku dengar suara langkah kaki tampak menjauh dan aku yakin gadis itu pasti sudah beranjak pergi. Aku pun menunggu hingga akhirnya langkah kaki itu tak lagi
"Hei! Sepertinya Anda butuh tumpangan untuk pulang ya?" Ajakku padanya.
"Gak usah. Gue mau nunggu ojek aja, lagian juga tadi loe bilang kan mau langsung pulang dan gak mau anterin gue." Ujarnya menolak tawaranku.
"Ya sudah maaf. Habisnya tadi anda sudah membuat saya kesal, cuma sekarang saya kasian aja. Soalnya jam segini pasti sudah gak akan ada lagi ojek." Entah kenapa gaya bicaraku jadi tiba - tiba sedikit berubah padanya. Padahal biasanya aku selalu berbicara formal pada siapapun kecuali pada keluarga dan sahabat dekatku.
"Hmm, loe ikhlas gak nih? Kalo enggak mending gak usah sekalian deh biar gue pulang jalan kaki aja." Ucapnya sembari mulai berjalan.
"Saya ikhlas kok. Sudah cepat naik! sebelum saya berubah fikiran lagi." Ujarku padanya.
"Ya udah deh." Ia pun naik dan duduk di jok belakang motorku.
Setelah ia naik, aku pun melajukan motorku membelah jalanan kala senja itu. Beberapa saat, tampaknya keheningan lebih mendominasi selama dalam perjalanan. Hingga akhirnya gadis itu Tisya, memulai pembicaraan dan memecah keheningan antara kami berdua.
"Hei! Daritadi gue belom tau nama loe. Tadi waktu di sekolah loe udah tau kan nama gue? Sekarang giliran loe." Ujarnya sambil menepuk punggunggku dari belakang.
"Memang penting ya anda tahu nama saya?" Jawabku sambil terus memperhatikan jalanan kala itu.
"Ya gak penting juga sih. Tapi ya kali gue gak tau nama loe, terus gue harus panggil loe apa coba? Masa iya gue panggil cowok kaku terus. Haha." Ujarnya sambil terkekeh.
"Nama saya Novan Steffano. Tolong ya berhenti memanggil saya dengan sebutan cowok kaku, saya tidak suka!" Jawabku padanya dengan sedikit membentak. Karena memang sejujurnya aku sangat tidak suka dipanggil dengan sebutan "Cowok Kaku". Karena aku sudah muak dengan julukan itu.
"Ya udah deh maaf, abisnya loe kaku banget sih. Ngomong aja bahasanya formal terus." Ujar Tisya padaku.
Mendengar itu, aku pun diam dan tidak mengubrisnya lagi. Keheningan pun kembali mendominasi diantara kami berdua. Hingga akhirnya kami pun telah sampai di rumahnya Tisya. Dan ternyata rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku yang hanya beberapa blok lagi saja. Setelah mengantarnya pulang,  aku pun langsung bergegas menuju rumah. Di rumah aku pun sempat berfikir keras, bagaimana aku bisa bersikap begitu baik pada Tisya. Karena aku biasanya tak pernah peduli dengan keadaan orang sekitar apalagi jika nantinya akan dapat merepotkanku. Ah! Mungkin hanya kebetulan saja, dia kan perempuan jadi mungkin aku hanya merasa iba dan menolongnya.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Ku langkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah. Begitu sampai di kelas, aku pun duduk di bangku paling depan seperti biasanya. Bel masuk pun berbunyi, bersamaan dengan itu Ibu Riska datang dan di belakangnya tampak ada seorang gadis yang membuntutinya. Dan wajah gadis itu tampaknya sudah tidak asing bagiku. Ya! Gadis itu adalah Tisya.
"Ya! Kali ini kita kedatangan murid baru di kelas XII MIPA 1. Silahkan perkenalkan dirimu di depan kelas nak!" Ujar Bu Riska kepada seluruh murid kelas.
"Hai guys! Kenalin nama gue Latisya Aqilla Zamora kalian semua bisa panggil gue Tisya, gue pindahan dari Jakarta." Ujarnya memperkenalkan diri.
"Hai Tisya! Rambutnya kurang merah tuh, seragamnya juga kayaknya salah ukuran deh. Ngetat banget mbak." Ujar salah satu siswi perempuan berteriak dari belakang.
"HAHAHAHA! CUIT CUIWWWWW!" Seisi kelas pun ikut ribut menertawakan.
Kelas pun menjadi ramai karena ulah celetukan dari siswi tersebut. Meskipun begitu, tak kulihat raut perasaan sedih atau pun malu tersirat dari wajah Tisya. Ia masih tetap setia dengan memasang wajah angkuhnya seakan - akan tak mendengar dan tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh murid seisi kelas.
"Sudah - sudah diam. Kalian tidak boleh begitu!" Ibu Riska pun mencoba menenangkan kegaduhan yang melanda seisi kelas.
Setelah itu Ibu Riska pun menyuruh Tisya untuk duduk di bangku paling belakang, karena memang saat itu hanya ada 1 bangku yang masih kosong. Ia pun beranjak untuk duduk, kulihat ia melirikku sebentar dan setelahnya duduk di tempatnya.
Bel istirahat pun berbunyi, aku pun berniat akan mengahabiskan jam istirahat itu untuk ke perpustakan dan membaca buku. Tapi saat aku ingin segera pergi, sebuah lengan yang mencegahku. Saat kupalingkan wajah untuk melihat siapa yang mencegahku, aku pun tidak begitu kaget saat melihatnya. Ya itu memang dia, siapa lagi kalau bukan Tisya.
"Nov, temenin gue ke kantin dong! Laper nih. " Ajaknya kepadaku.
"Enggak bisa, saya mau ke perpus. Ajak yang lain saja untuk temani kamu ke kantin." Ujarku menolak ajakannya.
"Yaelah! Gue belum punya temen, yang gue kenal kan baru loe doang. Plisss yaaa temenin gue." Ia tetap memohon - mohon kepadaku untuk minta ditemani ke kantin.
"Yasudah iya." Entah kenapa saat itu aku ingin menolak tapi tak bisa. Ada sesuatu di dalam hatiku yang memaksaku untuk tidak menolaknya. Ah! mungkin hanya kebetulan saja aku juga sedang lapar jadi ku iya kan saja tawarannya.
Sesampainya di kantin, aku merasa sangat asing dengan keadaan disana. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki ke kantin. Kulihat banyak sekali pandangan mata yang menatap aneh padaku. Mungkin mereka heran bagaimana bisa seorang Novan Steffano yang terkenal dengan ke kakuan dan anti sosialnya, sekarang berada di kantin dengan seorang gadis yang notabennya berpenampilan nyentrik seperi Tisya. Bahkan aku pun heran dengan diriku sendiri, kenapa aku dapat mau saja meng iya kan ajakannya. Ku hiraukan saja mereka dan fikiranku yang terus beradu tanya.
Aku pun duduk dengan Tisya sambil menunggu es krim pesanan kami datang. Dari samping tampak terlihat jelas wajah angkuh yang Tisya selalu tunjukkan. Tapi entah  kenapa di mataku wajah angkuhnya lebih terlihat menggemaskan bahkan begitu cantik. Aku begitu larut dengan lamunanku hingga tak sadar bahwa es krim pesanan kami telah tersaji di atas meja. Keheningan pun menguasai kami berdua yang sibuk menyantap es krim masing - masing. Hingga akhirnya bel masuk pun memecah keheningan di antara kami berdua. Aku dan Tisya pun bergegas untuk segera kembali menuju kelas.
Tak terasa jam pelajaran seharian ini telah terlewati. Aku pun segera bergegas untuk pergi ke perpustapkaan, karena sebelumnya niatku untuk ke perpustakaan tidak jadi. Namun kembali lagi ada yang mencegahku, siapa lagi kalau bukan Tisya.
"Nov gue nebeng pulang lagi dong, ya ya ya." Ucapnya sambil menarik - narik jaket yang kukenakan.
"Iya iya. Tapi saya mau ke perpus dulu, memang kamu mau ikut?" Ujarku padanya, aku sendiri agak sedikit kaget saat aku mengatakan "kamu" padanya.
"Ya udah deh gue ikut. Tapi entar pulangnya anterin gue ke kedai es krim dulu  yaaa." Ajaknya kepadaku.
"Enggak - enggak! Mending kita langsung pulang saja, mendung soalnya. Lagian kan tadi di kantin sudah makan es krim." Ucapku menjelaskan.
"Yaahhh Nov, plissss anterin gue dong. Gue pengen banget beli es krim yayaya." Meskipun aku telah menolak tapi ia tetap memohon - mohon kepadaku.
"Ya sudah, nanti saya antarkan." Dan kini kembali terjadi lagi, aku tak bisa menolak ajakannya. Apalagi jika dia sudah memasang wajah memohon yang begitu menggemaskan, membuatku lupa akan dunia sesaat.
Kami pun melangkahkan kaki menuju ke perpustakaan. Tak begitu lama aku dan Tisya berada di perpustakaan, karena aku hanya akan mengembalikan buku. Mungkin niatku untuk mebaca buku di perpustakaan harus ku tunda dulu untuk hari ini. Kemudian aku dan Tisya pun langsung bergegas menuju kedai es krim yang diinginkan Tisya. Sesampainya disana, Tisya langsung berlari mendahuluiku dan langsung memesan es krim favoritnya. Ternyata rasa favoritnya adalah es krim vanilla dengan topping oreo dan selai strawberry. Sangat berbanding terbalik denganku yang menyukai es krim coklat dengan topping choco chips. Sambil menunggu pesanan datang, aku pun memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Saya mau tanya boleh?" Tanyaku padanya.
"Ya tinggal nanya aja kali, wkwk" Ucapnya dengan sedikit terkekeh.
"Kenapa kamu sangat suka makan es krim? Padahal kan saat istirahat di sekolah kita juga sudah makan es krim dan sekarang kamu mengajak saya buat makan es krim lagi." Tanyaku sembari menjelaskan maksudku padanya.
"Karena es krim itu dingin. Dinginnya bisa ngademin hati hehe. Apalagi kalau gue lagi bt atau kesel pasti gue makan banyak es krim. Kalaupun es krimnya gak ada es batu aja gue embat, yang penting sama - sama dingin dan bisa ngademin hati gue haha." Jawabnya menjelaskan kepadaku yang lagi - lagi dengan sedikit terkekeh.
"Oh begitu ya." Ujarku padanya.

***

Akhirnya es krim kami berdua telah siap. Dan tanpa basa - basi Tisya langsung melahap es krim pesanannya dengan semangat. Sampai - sampai aku berfikir, apakah ia tidak merasakan ngilu pada giginya saat memakan es krim dengan secepat itu. Mungkin karena dia memang sangat suka es krim, hingga dia dapat terbiasa dengan rasa ngilunya. Setelah kami selesai menyantap es krim, kami pun bergegas meninggalkan kedai tersebut untuk segera pulang. Di perjalanan, aku sedikit mencuri - curi kesempatan untuk memandangi wajah Tisya dari spion motor. Wajahnya memang selalu khas menampilkan aura keangkuhannya, namun dibalik itu ia sangatlah menggemaskan.
Di sela - sela lamunanku, aku pun menepis fikiran tersebut. Oh lihatlah, Tisya sangat jauh jika dibandingkan dengan kriteriaku. Mungkin dari segi cantik ia cukup memadai, namun dari segi prilaku sangatlah keluar jalur dengan kriteria gadis yang aku impikan. Mulai saat itu kutanamkan dalam benak. Jangan sampai aku jatuh cinta kepada Latisya. Bagaimana pun caranya akan kulakukan agar aku tidak jatuh cinta padanya. Tapi bagaimana dengan rasa nyaman yang timbul ketika sedang bersamanya?. Oh mungkin karena aku baru saja merasakan bagaimana memiliki seorang teman.
Keesokan harinya, tidak banyak yang berubah dengan keseharianku. Aku tetaplah aku yang dulu, cowok yang kaku. Kebetulan bel masuk sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Namun saat kutengok ke belakang ternyata bangku Tisya belum terjamah sama sekali. Kemana dia ya? Tanyaku dalam hati. Ibu Riska pun tiba - tiba datang dan membawa kabar buruk untuk murid seisi kelas. Apalagi jika bukan Ulangan Mendadak untuk mata pelajaran fisika.
"Hari ini kita post test ya, soalnya essay! Harap diisi dengan cara pengerjaannya!" Ujar Bu Riska pada seisi kelas.
Tak ada yang berani protes pada Bu Riska meskipun ulangan tersebut mendadak. Karena Ibu Riska merupakan wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan. Hal tersebut membuat semua murid segan kepadanya. Aku pun mulai mengerjakan soal - soal tersebut, untunglah memang hobiku adalah membaca dan belajar membuatku tidak merasa kesulitan jika sekalipun ada ulangan mendadak seperti ini. Di kala aku sedang begitu larut mengerjakan soal - soal. Seseorang dengan tergesa - gesa tiba - tiba masuk dan membuyarkan konsentrasi dari seisi kelas.
"Hhh,, hhh,, hhh,, Maaf bu saya telat." Ternyata orang tersebut adalah Tisya.
"Kamu tau sekarang jam berapa?" Tanya Bu Riska padanya. Dari raut wajahnya keliatannya Bu Riska tampak jengkel dan kesal.
"Iya bu maaf, saya tadi telat bangun." Ujar Tisya menjelaskan alasan ia terlambat.
"Okey! Kali ini ibu maafkan karena kamu adalah murid baru. Mungkin kamu belum terlalu memahami mengenai tata tertib di sekolah ini. Untuk ke depannya jika kesalahan kamu terulang lagi tidak akan saya maklumi kembali. Sekarang kamu boleh duduk dan langsung saja mengerjakan soal ulangan." Bu Riska pun memberi keringanan padanya, karena memaklumi bahwa Tisya adalah murid baru di sekolah ini.
"Baik bu, terimakasih." Ucap Tisya dan langsung duduk di bangkunya.
Tak terasa waktu pengerjaan soal pun telah habis. Semua murid pun mengumpulkan lembar jawabannya ke depan meja guru untuk langsung diperiksa oleh Bu Riska. Dan tibalah saatnya Bu Riska mengumumkan nilai dari hasil pengerjaan post test tersebut. Kulihat raut wajah teman - temanku tampak begitu cemas berbeda dengan aku dan Tisya. Tisya sendiri memang seperti biasanya selalu santai tanpa meninggalkan kesan angkuhnya. Sementara aku, ya biasa saja karena aku merasa percaya diri dengan apa yang aku kerjakan.
"Dan seperti biasa nilai tertinggi yaitu 100 dan berhasil diraih oleh Novan Steffano. Ibu harap kalian semua dapat termotivasi oleh Novan karena ia selalu mendapatkan niai sempurna saat ulangan." Ujar Bu Riska sembari tersenyum kepadaku.
"Namun, jika ada nilai tertinggi pasti ada pula nilai terrendah, yaitu 0." Mendengat itu, aku pun mengernyitkan dahi karena setahuku serendah - rendahnya nilai saat ulangan di kelasku. Tidak ada yang pernah mendapatkan nilai nol.
"Dan kali ini nilai tersebut diraih oleh Latisya Aqilla Zamora. Karena dia tidak mengisi sama sekali lembar jawaban yang sudah ibu berikan. Ibu mau bertanya, kenapa kamu tidak mengisi sama sekali lembar jawabannya? Apakah kamu tidak mengahargai ibu sebagai guru di sini?" Tanya Bu Riska yang tampak begitu kesal.
"Bukan begitu bu. Saya ini cinta lingkungan saya nggak mau menghambur - hamburkan kertas buat ditulis bu. Kasihan pohon - pohonnya, semakin banyak kita menghamburkan kertas maka bakal banyak banget pohon yang ditebang dan bumi kita semakin dekat dengan ambang kehancuran." Ujar Tisya menjelaskan alasannya.
"HAHAHAHAHAHA"
"Otaknya ditaro dimana sih?!"
"Dia ngelawak guys!"
Kelas pun menjadi ricuh dan ribut ketika mendengar jawaban dari Tisya. Aku sendiri tak habis fikir, jalan fikiran dari seorang Latisya itu seperti apa. Bisa - bisanya dia menjawab pertanyaan guru dengan jawaban yang begitu konyol dan di luar akal menurutku. Aku pun ikut larut dengan tawa seisi kelas.
"Sudah - sudah jangan jadi ribut! Untuk Latisya pada jam istirahat harap temui ibu di rulang wakasek." Ujar Bu Riska menenangkan seisi kelas sembari memperingatkan Tisya.
Tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi. Bersamaan dengan itu, Bu Riska terlihat mulai meninggalkan kelas diikuti dengan Tisya yang mengekor di belakangnya. Aku tak habis fikir mengapa fikiran Tisya bisa sedangkal itu. Sepertinya dia tidak memiliki urat malu juga sopam santun terhadap siapapun. Hal tersebut semakin meyakinkan ku untuk jangan sampai jatuh cinta padanya.

****

Hari demi hari pun terus berganti kemudian berganti menjadi minggu ke minggu hingga bulan demi bulan pun juga berganti. Namun hari - hariku tak lagi sama seperti dulu. Kini aku hanya dapat terbaring lemah di ranjang rumah sakit tanpa bisa melakukan apapun. Untuk makan saja aku membutuhkan bantuan dari orang lain. Aku pun sebelumnya tak pernah mengira takdirku akan seperti ini. Untungnya ada seseorang yang selalu menemaniku setiap harinya, gadis yang selama satu bulan ini menjadi kekasihku. Ya, dia adalah Adinda Tiffana ia merupakan ketua dari ekstrakurikuler bahasa asing du sekolahku. Namanya tentu sudah sangat terkenal baik di mata murid ataupun guru, karena ia merupakan siswi yang telah banyak sekali meraih prestasi. Selain itu dia juga cantik dan sangat sopan sekali, sungguh ia memang benar - benar kriteriaku.
Dan aku pun sangat berterimakasih kepada temanku, siapalagi kalau bukan Tisya. Karena berkat dialah aku dapat dekat hingga akhirnya mampu memenangkan hati seorang Adinda Tiffana. Tentunya saat aku masih dalam keadaan sehat, tepatnya satu bulan yang lalu. Tisya sendiri tidak terlalu sering menjengukku bahkan sangat jarang. Jujur aku merasa sedikit kehilangan, karena ia lah satu - satunya orang yang dapat aku anggao sebagai teman. Tapi aku memakluminya, mungkin sekarang ia memiliki kesibukan lain. Namun aku benar - benar penasaran dan ingin tahu bagaimana kabarnya. Akhirnya aku pun mencoba bertanya pada Dinda.
"Din, Tisya kemana ya? Kok jarang sekali menjenguk saya?" Tanyaku pada Dinda.
"Tisya ada kok, dia kan lagi sibuk seleksi basket buat turnamen" Ujarnya menjawab.
"Oh gitu ya."
Waktu pun terus berjalan dan keadaanku semakin tak karuan. Aku divonis dokter bahwa kanker hati yang aku derita sudah memasuki stadium akhir dan harus segera mendapatkan transplantasi hati. Sungguh pada saat itu aku hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hingga akhirnya aku tak lagi sadarkan diri.
Saat terbangun, aku pun tampak aneh dengan keadaan di sekitarku. Bagaimana bisa aku tiba - tiba berada di sekitaran sungai yang terdapat air terjun. Aku pun mencoba berjalan dengan sedikit tenaga yang bisa ku kerahkan. Dan diujung sana kulihat ada seorang gadis sedang duduk di atas batu, ia tampaknya sedang akan menghanyutkan sesuatu. Aku pun berlari menghampirinya, saat ku amati lebih seksama ternyata gadis itu adalah Tisya aku pun berteriak untuk memanggilnya.
"TISYAAAAA!" Seruku berteriak memanggil namanya.
Kulihat ia hanya tersenyum kemudian melambaikan tangan kepadaku. Namun sial, kakiku tiba - tiba saja tersandung batu dan membuatku terpeleset ke dalam sungai. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, tenagaku sama sekali tak cukup untuk berenang melawan arus sungai yang begitu deras. Aku pun pasrah, mungkin aku memang harus mati saat ini juga.
Aku pun mencoba untuk membuka mata perlahan - lahan. Cahaya pun masuk sedikit demi sedikit ke dalam mataku. Membuatku dapat melihat dengan jelas bahwa ternyata aku masih di kamar yang sama saat terakhir aku mulai tak sadarkan diri. Kulihat ada Bunda yang tersenyum kepadaku.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak! Bunda khawatir sekali karena kamu sudah koma dari 2 minggu yang lalu." Ucap Bunda seraya langsung memelukku.
Aku pun hanya diam sambil membalas pelukan Bunda. Dan terus berfikir apa yang telah aku lewatkan dan terjadi selama 2 minggu aku tak sadarkan diri. Dan entah kenapa aku merasakan ada sesuatu hal yang terasa hilang dalam hidupku,aku juga tak tahu dan bingung hal apa yag membuatku merasa seperti itu. Namun dibalik itu aku sangat merasa bersyukur karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk tetap hidup di dunia ini. Ku lihat juga ada Dinda yang nampak tersenyum kepadaku. Namun aku tak melihat Tisya disana, aku benar - benar sangat merindukan temanku tersebut. Apakah dia tidak merasa khawatir padaku, padahal kan aku adalah temannya. Aku pun mencoba bertanya pada Dinda dimana Tisya berada.
"Din, Tisya dimana sih? Masa dia belum menengok saya." Tanyaku pada Dinda.
"Dia gak bisa nengok ke sini. Besok aja kita ketemu Tisya ya." Jawabnya padaku.
Keesokan harinya aku pun bersiap - siap dengan Dinda untuk pergi menemui Tisya. Karena aku belum mampu untuk berjalan, aku pun dituntun dengan menggunakan kursi roda. Kami pun segera berangkat menggunakan mobil membelah jalanan Kota Bandung. Sesampainya di tempat yang kami tuju aku pun tampak heran dengan tempat ini. Apa Dinda tak salah membawaku ke sini untuk bertemh dengan Tisya.
"Din, apa kita tidak salah tujuan? Apa iya Tisya ada disini." Tanyaku begitu penasaran.
"Iya gak salah kok. Emang bener Tisya ada disini, udah ikutin aja aku." Jawabnya sambil terus mendorong kursi rodaku.
Kulihat dikejauhan ada sebuah kuburan yang tanahnya masih merah dan banyak ditaburi dengan bunga - bunga. Apakah Tisya sudah? Aku pun menepis jauh - jauh fikiran tersebut. Namun semakin dekat dan lebih aku dapat membaca nama yang terpampang di pusara tersebut.
DEG!
Aku kaget bukan main melihat nama yang terpampang disana. Karena disana tertulis satu - satunya nama temanku, Latisya Aqilla Zamora. Aku pun reflek berdiri dari kursi roda dan dengan kekuatan yang bisa ku kerahkan aku langsung berlari menuju kuburan tersebut. Aku pun terjatuh tepat di depan pusaranya, air mata pun tak lagi dapat ku bendung dan keluar begitu saja dengan derasnya.
"DIN! APA - APAAN INI? KENAPA SEMUA BISA KAYA GINI?"
"Iya Nov! Tisya udah gak ada karena dia kecelakaan saat tahu kamu koma 2 minggu yang lalu. Dan karena kecelakaan itu kakinya diamputasi, dia ngerasa kalaupun dia hidup udah gak ada gunanya lagi. Dan akhirnya dia donorin hati dia buat kamu Nov!" Ujar Dinda berterus terang sambil terus menangis.
"Dia juga nitipin surat ini buat kamu Nov." Dinda pun tampak memberikan sepucuk surat kepadaku.
Aku pun membuka surat itu dan mulai membacanya. Tidak banyak yang tertulis disana hanya berberapa kalimat saja.

"Gue gak pinter merangkai kata, maap ya Nov hehe. Jaga baik - baik hati gue ya, loe jangan sampai sakit hati. Cukup gue aja yang sakit hati ngeliat loe sama Dinda. Tapi sekarang gue seneng kok karena hati gue udah ada di tubuh loe. Hati gue milik loe sekarang, pokoknya jaga baik - baik hati gue ya jangan disakitin lagi kaya dulu wkwk. Dadahhhh gue pergi ya. - Tisya"

Dadaku pun terasa begitu sesak sakit saat selesai membaca surat itu. Mungkin tak ada kata lagi yang dapat mendefinisikan betapa sakit hatinya aku saat itu. Aku pun begitu menyesal akan itu semua, menyesal berbohong pada diri sendiri. Aku hanya mengikuti kata fikiran tanpa mengikuti apa maunya kata hati. Namun semuanya sudah terlambat, benar - benar terlambat. Kini Tisya telah pergi menyisakan hatinya di tubuhku untuk tetap membuatku hidup di dunia ini.

*****

Aku pun tersenyum mengingat kenangan - kenangan tersebut. Ku berikan bukket bunga dan menyimpannya disamping pusara yang bertuliskan nama Latisya Aqilla Zamora.
"Saya pamit ya Tis! Baik - baik ya disana, terimakasih atas hati yang telah kamu berikan kepada saya. Mungkin ini semua memang terlambat tapi sebenarnya saya sangat menyayangi kamu, maaf saya belum sempat mengatakan secara langsung." Setelah berpamitan padanya aku pergi meninggalkan tempat itu. 




TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS