Nah setelah begitu sekian lamanya saya menghilang, kini saya kembali dengan membawakan cerita pendek ( cerpen ) beralur mundur atau flashback. Cerpen ini karangan saya sendiri lhooo!
Tapi sebelumnya saya minta maaf dulu yak kalo ada kata - kata yang typo atau tidak enak dibaca hehe. Namanya juga masih belajar wkwk.
SELAMAT MEMBACAAAA!!!
Terlambat
Karya : Nida Salma Fauziyyah
Sore
itu, aku sengaja menyempatkan diri untuk bertemu dengannya. Kepulanganku ke
Bandung yang merupakan sebuah momen langka tak mau aku sia - siakan tanpa
bertemu dengan dirinya. Ku hampiri dirinya kemudian duduk tepat di depannya. Di
bawah rintik hujan kupandangi dirinya. Dirinya yang sampai saat ini masih
menjadi pengisi di dalam hati ini. Dirinya yang nampak begitu cantik dengan flower crown yang kukenakan pada
kepalanya. Kupandangi lagi lekat - lekat dirinya. Hingga nampak terbayang dalam
benak, wajah angkuhnya yang selalu ia tunjukkan. Dalam waktu yang bersamaan
juga terbayang wajahnya yang begitu menggemaskan saat ia sedang memintaku untuk
menemaninya membeli es krim. Di sela - sela lamunanku, akupun menyadari bahwa
hujan ternyata sudah semakin deras. Kemudian kupakaikan jaketku padanya, karena
aku tidak mau jika orang yang aku sayangi merasa kedinginan. Lalu aku pun
tersenyum, mengingat setahun lalu saat aku pertama kali bertemu dengannya. Dan
di situlah kisah aku dengannya berawal.
**
Kisah
itu berawal di saat aku mulai duduk di bangku kelas 12 di sebuah Sekolah
Menengah Atas Negeri di Bandung. Namaku Novan Steffano, aku yang waktu itu
sering disebut sebagai cowok kaku. Yang kerjanya hanya membaca buku dan
belajar. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan menyendiri sambil membaca
buku daripada harus bergaul ataupun nongkrong dengan teman sebayaku. Karena
menurutku itu semua hanya buang - buang waktu dan tak ada gunanya sama sekali.
Mengobrol dengan teman pun hanya kulakukan seperlunya saja. Sebenarnya aku
bukan orang yang anti sosial, hanya saja aku belum bisa menemukan seseorang
yang dapat benar - benar aku anggap sebagai teman.
Sore itu, setelah bel pulang aku
beranjak menuju perpustakaan. Tanpa ku kira sebelumnya, disaat itulah aku pertama
kali bertemu dengan dirinya.
BRUKKK...!
"Hei!
Anda punya mata? Kalau jalan lihat - lihat dulu bisa?" Ucapku geram pada
seseorang yang menabrakku.
"Ya
udah biasa aja dong! Gak usah sewot." Ucapnya seraya marah kepadaku.
"Saya
bukan sewot. Lagian, memang Anda sendiri yang jalan tidak lihat - lihat!"
Aku pun membalas dan tak mau kalah dengannya. Saat aku mendongakkan kepala
ternyata yang telah menabrakku adalah seorang gadis yang sepertinya murid baru.
Dari cara berpakaian dan bicaranya saja sudah terlihat bahwa dia bukanlah gadis
yang memiliki prilaku yang baik.
"Ya
udah sih gak usah diperpanjang juga kali. Lagian gue juga gak sengaja!" Ia
pun membalas dan kelihatannya juga ia tak mau kalah denganku.
"Ya
sudah saya tidak mau memperpanjang urusan dengan orang seperti anda. Masih
banyak hal penting yang saya harus lakukan." Karena kesal akupun pergi
meninggalkan gadis itu dan segera menuju ke perpustakaan.
Setelah
sampai di perpustakaan aku pun langsung membuka daftar buku apa saja yang harus
ku pinjam dan mulai mencarinya. Hampir setengah jam aku berada di perpustakaan,
aku pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Namun, aku menyadari bahwa
kunci motor yang seharusnya ada di saku celanaku tidak ada. Oh, mungkin
terjatuh saat aku bertabrakan dengan gadis tadi. Aku pun bergegas menuju tempat
dimana aku dan gadis itu bertubrukan. Dan ternyata kunci motorku tidak berada
disana. Haduh, bagaimana aku bisa pulang jika kunci motor itu tidak ada.
Pikiranku lalu tertuju pada gadis itu, mungkin tadi kunci motorku terjatuh dan
diambil olehnya. Aku pun bergegas untuk mencari gadis itu bagaimana pun
caranya. Dan akhirnya aku menemukan gadis itu sedang berdiri di depan gerbang
sekolah. Tanpa pikir panjang aku pun langsung menghampirinya.
"Hei!
Apa anda tadi menemukan kunci motor saya?" Tanyaku pada gadis itu.
"Kunci
motor apaan?" Ucapnya balik bertanya membuatku geram.
"Ya
kunci motor! Pokoknya kunci motor, anda kan tadi yang menabrak saya. Pasti
kunci motor saya terjatuh dan anda yang ambil kan?!" Ucapku geram karena ingin
segera pulang dan enggan berurusan dengan gadis itu.
"Mending
sekarang kita kenalan dulu deh. Nama gue Latisya Aqilla Zamora loe bisa panggil
gue Tisya. Nama loe siapa?" Bukannya mengembalikkan kunci motorku ia malah
mengajakku berkenalan. Sungguh cewek yang aneh gumamku saat itu.
"Anda
ini sebenarnya kenapa?! Saya bertanya pada anda untuk mencari kunci motor saya.
Bukan untuk berkenalan, cepat mana kunci motor saya?!" Ucapku tak sabar
dengan kekesalan yang sudah sangat memuncak padanya.
"Kaku
amat sih loe jadi cowok. Iya iya kunci motor loe emang ada di gue. Nihhh!"
Ucapnya sambil menunjukkan kunci motorku.
"Mana
sini kembalikan!" Saat aku ingin mengambil kunci itu di tangannya ia malah
menyembunyikan kunci tersebut ke ke belakang punggunggnya.
"Eittsss,
gue bakal kembaliin kunci loe tapi syaratnya loe harus anterin gue pulang ya ya
ya plis!" Ucapnya memohon - mohon padaku saat itu.
"Enggak
- enggak! Saya mau langsung pulang." Jawabku menolak karena aku memang
sangat - sangat ingin langsung pulang melepas penat.
"Ya
udah gak akan gue balikin!" Ucap gadis itu.
Aku
pun berfikir keras bagaimana caranya agar kunci motorku dapat segera kembali.
Kulihat gadis itu mulai lengah dan tanpa basa - basi ku ambil kunci motorku
lalu berlari ke parkiran. Saat aku menoleh ke belakang tampak gadis itu mulai
mengejar, dengan segera ku percepat langkah berlariku bukan lagi menuju
parkiran. Namun gadis itu tetap saja mengejar meskipun aku telah berlari hingga
ke luar area sekolah dan pas sekali! Di ujung perempatan jalan ada sebuah rumah
yang ditumbuhi banyak semak - semak, aku pun bersembunyi di situ.
"Hhhh...
Kemana sih cowo tadi, perasaan larinya cepet amat. Mana gue gak tau jalan
daerah sini lagi. Loe emang bego Tis! Harusnya tadi loe gak usah ngejar cowok
kaku itu." Ujarnya tampak kesal dan memaki diri sendiri karena tak bisa
mengejarku.
Dari tempat persembunyian, ku dengar
suara langkah kaki tampak menjauh dan aku yakin gadis itu pasti sudah beranjak
pergi. Aku pun menunggu hingga akhirnya langkah kaki itu tak lagi
"Hei!
Sepertinya Anda butuh tumpangan untuk pulang ya?" Ajakku padanya.
"Gak
usah. Gue mau nunggu ojek aja, lagian juga tadi loe bilang kan mau langsung
pulang dan gak mau anterin gue." Ujarnya menolak tawaranku.
"Ya
sudah maaf. Habisnya tadi anda sudah membuat saya kesal, cuma sekarang saya
kasian aja. Soalnya jam segini pasti sudah gak akan ada lagi ojek." Entah
kenapa gaya bicaraku jadi tiba - tiba sedikit berubah padanya. Padahal biasanya
aku selalu berbicara formal pada siapapun kecuali pada keluarga dan sahabat
dekatku.
"Hmm,
loe ikhlas gak nih? Kalo enggak mending gak usah sekalian deh biar gue pulang
jalan kaki aja." Ucapnya sembari mulai berjalan.
"Saya
ikhlas kok. Sudah cepat naik! sebelum saya berubah fikiran lagi." Ujarku
padanya.
"Ya
udah deh." Ia pun naik dan duduk di jok belakang motorku.
Setelah
ia naik, aku pun melajukan motorku membelah jalanan kala senja itu. Beberapa
saat, tampaknya keheningan lebih mendominasi selama dalam perjalanan. Hingga
akhirnya gadis itu Tisya, memulai pembicaraan dan memecah keheningan antara
kami berdua.
"Hei!
Daritadi gue belom tau nama loe. Tadi waktu di sekolah loe udah tau kan nama
gue? Sekarang giliran loe." Ujarnya sambil menepuk punggunggku dari
belakang.
"Memang
penting ya anda tahu nama saya?" Jawabku sambil terus memperhatikan
jalanan kala itu.
"Ya
gak penting juga sih. Tapi ya kali gue gak tau nama loe, terus gue harus
panggil loe apa coba? Masa iya gue panggil cowok kaku terus. Haha."
Ujarnya sambil terkekeh.
"Nama
saya Novan Steffano. Tolong ya berhenti memanggil saya dengan sebutan cowok
kaku, saya tidak suka!" Jawabku padanya dengan sedikit membentak. Karena
memang sejujurnya aku sangat tidak suka dipanggil dengan sebutan "Cowok
Kaku". Karena aku sudah muak dengan julukan itu.
"Ya
udah deh maaf, abisnya loe kaku banget sih. Ngomong aja bahasanya formal
terus." Ujar Tisya padaku.
Mendengar
itu, aku pun diam dan tidak mengubrisnya lagi. Keheningan pun kembali
mendominasi diantara kami berdua. Hingga akhirnya kami pun telah sampai di
rumahnya Tisya. Dan ternyata rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku yang hanya
beberapa blok lagi saja. Setelah mengantarnya pulang, aku pun langsung
bergegas menuju rumah. Di rumah aku pun sempat berfikir keras, bagaimana aku
bisa bersikap begitu baik pada Tisya. Karena aku biasanya tak pernah peduli
dengan keadaan orang sekitar apalagi jika nantinya akan dapat merepotkanku. Ah!
Mungkin hanya kebetulan saja, dia kan perempuan jadi mungkin aku hanya merasa
iba dan menolongnya.
Keesokan
harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Ku langkahkan kakiku menyusuri
koridor sekolah. Begitu sampai di kelas, aku pun duduk di bangku paling depan
seperti biasanya. Bel masuk pun berbunyi, bersamaan dengan itu Ibu Riska datang
dan di belakangnya tampak ada seorang gadis yang membuntutinya. Dan wajah gadis
itu tampaknya sudah tidak asing bagiku. Ya! Gadis itu adalah Tisya.
"Ya!
Kali ini kita kedatangan murid baru di kelas XII MIPA 1. Silahkan perkenalkan
dirimu di depan kelas nak!" Ujar Bu Riska kepada seluruh murid kelas.
"Hai
guys! Kenalin nama gue Latisya Aqilla Zamora kalian semua bisa panggil gue
Tisya, gue pindahan dari Jakarta." Ujarnya memperkenalkan diri.
"Hai
Tisya! Rambutnya kurang merah tuh, seragamnya juga kayaknya salah ukuran deh.
Ngetat banget mbak." Ujar salah satu siswi perempuan berteriak dari
belakang.
"HAHAHAHA!
CUIT CUIWWWWW!" Seisi kelas pun ikut ribut menertawakan.
Kelas
pun menjadi ramai karena ulah celetukan dari siswi tersebut. Meskipun begitu,
tak kulihat raut perasaan sedih atau pun malu tersirat dari wajah Tisya. Ia
masih tetap setia dengan memasang wajah angkuhnya seakan - akan tak mendengar
dan tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh murid seisi kelas.
"Sudah
- sudah diam. Kalian tidak boleh begitu!" Ibu Riska pun mencoba
menenangkan kegaduhan yang melanda seisi kelas.
Setelah
itu Ibu Riska pun menyuruh Tisya untuk duduk di bangku paling belakang, karena
memang saat itu hanya ada 1 bangku yang masih kosong. Ia pun beranjak untuk
duduk, kulihat ia melirikku sebentar dan setelahnya duduk di tempatnya.
Bel istirahat pun berbunyi, aku pun
berniat akan mengahabiskan jam istirahat itu untuk ke perpustakan dan membaca
buku. Tapi saat aku ingin segera pergi, sebuah lengan yang mencegahku. Saat
kupalingkan wajah untuk melihat siapa yang mencegahku, aku pun tidak begitu
kaget saat melihatnya. Ya itu memang dia, siapa lagi kalau bukan Tisya.
"Nov,
temenin gue ke kantin dong! Laper nih. " Ajaknya kepadaku.
"Enggak
bisa, saya mau ke perpus. Ajak yang lain saja untuk temani kamu ke
kantin." Ujarku menolak ajakannya.
"Yaelah!
Gue belum punya temen, yang gue kenal kan baru loe doang. Plisss yaaa temenin
gue." Ia tetap memohon - mohon kepadaku untuk minta ditemani ke kantin.
"Yasudah
iya." Entah kenapa saat itu aku ingin menolak tapi tak bisa. Ada sesuatu
di dalam hatiku yang memaksaku untuk tidak menolaknya. Ah! mungkin hanya
kebetulan saja aku juga sedang lapar jadi ku iya kan saja tawarannya.
Sesampainya
di kantin, aku merasa sangat asing dengan keadaan disana. Aku bahkan lupa kapan
terakhir kali aku menginjakkan kaki ke kantin. Kulihat banyak sekali pandangan
mata yang menatap aneh padaku. Mungkin mereka heran bagaimana bisa seorang
Novan Steffano yang terkenal dengan ke kakuan dan anti sosialnya, sekarang
berada di kantin dengan seorang gadis yang notabennya berpenampilan nyentrik
seperi Tisya. Bahkan aku pun heran dengan diriku sendiri, kenapa aku dapat mau
saja meng iya kan ajakannya. Ku hiraukan saja mereka dan fikiranku yang terus
beradu tanya.
Aku
pun duduk dengan Tisya sambil menunggu es krim pesanan kami datang. Dari
samping tampak terlihat jelas wajah angkuh yang Tisya selalu tunjukkan. Tapi
entah kenapa di mataku wajah angkuhnya lebih terlihat menggemaskan bahkan
begitu cantik. Aku begitu larut dengan lamunanku hingga tak sadar bahwa es krim
pesanan kami telah tersaji di atas meja. Keheningan pun menguasai kami berdua
yang sibuk menyantap es krim masing - masing. Hingga akhirnya bel masuk pun
memecah keheningan di antara kami berdua. Aku dan Tisya pun bergegas untuk
segera kembali menuju kelas.
Tak terasa jam pelajaran seharian
ini telah terlewati. Aku pun segera bergegas untuk pergi ke perpustapkaan,
karena sebelumnya niatku untuk ke perpustakaan tidak jadi. Namun kembali lagi
ada yang mencegahku, siapa lagi kalau bukan Tisya.
"Nov
gue nebeng pulang lagi dong, ya ya ya." Ucapnya sambil menarik - narik
jaket yang kukenakan.
"Iya
iya. Tapi saya mau ke perpus dulu, memang kamu mau ikut?" Ujarku padanya,
aku sendiri agak sedikit kaget saat aku mengatakan "kamu" padanya.
"Ya
udah deh gue ikut. Tapi entar pulangnya anterin gue ke kedai es krim dulu
yaaa." Ajaknya kepadaku.
"Enggak
- enggak! Mending kita langsung pulang saja, mendung soalnya. Lagian kan tadi
di kantin sudah makan es krim." Ucapku menjelaskan.
"Yaahhh
Nov, plissss anterin gue dong. Gue pengen banget beli es krim yayaya."
Meskipun aku telah menolak tapi ia tetap memohon - mohon kepadaku.
"Ya
sudah, nanti saya antarkan." Dan kini kembali terjadi lagi, aku tak bisa
menolak ajakannya. Apalagi jika dia sudah memasang wajah memohon yang begitu
menggemaskan, membuatku lupa akan dunia sesaat.
Kami
pun melangkahkan kaki menuju ke perpustakaan. Tak begitu lama aku dan Tisya
berada di perpustakaan, karena aku hanya akan mengembalikan buku. Mungkin
niatku untuk mebaca buku di perpustakaan harus ku tunda dulu untuk hari ini.
Kemudian aku dan Tisya pun langsung bergegas menuju kedai es krim yang
diinginkan Tisya. Sesampainya disana, Tisya langsung berlari mendahuluiku dan
langsung memesan es krim favoritnya. Ternyata rasa favoritnya adalah es krim
vanilla dengan topping oreo dan selai strawberry. Sangat berbanding terbalik
denganku yang menyukai es krim coklat dengan topping choco chips. Sambil
menunggu pesanan datang, aku pun memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Saya
mau tanya boleh?" Tanyaku padanya.
"Ya
tinggal nanya aja kali, wkwk" Ucapnya dengan sedikit terkekeh.
"Kenapa
kamu sangat suka makan es krim? Padahal kan saat istirahat di sekolah kita juga
sudah makan es krim dan sekarang kamu mengajak saya buat makan es krim
lagi." Tanyaku sembari menjelaskan maksudku padanya.
"Karena
es krim itu dingin. Dinginnya bisa ngademin hati hehe. Apalagi kalau gue lagi
bt atau kesel pasti gue makan banyak es krim. Kalaupun es krimnya gak ada es
batu aja gue embat, yang penting sama - sama dingin dan bisa ngademin hati gue
haha." Jawabnya menjelaskan kepadaku yang lagi - lagi dengan sedikit
terkekeh.
"Oh
begitu ya." Ujarku padanya.
***
Akhirnya
es krim kami berdua telah siap. Dan tanpa basa - basi Tisya langsung melahap es
krim pesanannya dengan semangat. Sampai - sampai aku berfikir, apakah ia tidak
merasakan ngilu pada giginya saat memakan es krim dengan secepat itu. Mungkin
karena dia memang sangat suka es krim, hingga dia dapat terbiasa dengan rasa
ngilunya. Setelah kami selesai menyantap es krim, kami pun bergegas
meninggalkan kedai tersebut untuk segera pulang. Di perjalanan, aku sedikit
mencuri - curi kesempatan untuk memandangi wajah Tisya dari spion motor.
Wajahnya memang selalu khas menampilkan aura keangkuhannya, namun dibalik itu
ia sangatlah menggemaskan.
Di
sela - sela lamunanku, aku pun menepis fikiran tersebut. Oh lihatlah, Tisya
sangat jauh jika dibandingkan dengan kriteriaku. Mungkin dari segi cantik ia
cukup memadai, namun dari segi prilaku sangatlah keluar jalur dengan kriteria
gadis yang aku impikan. Mulai saat itu kutanamkan dalam benak. Jangan sampai
aku jatuh cinta kepada Latisya. Bagaimana pun caranya akan kulakukan agar aku
tidak jatuh cinta padanya. Tapi bagaimana dengan rasa nyaman yang timbul ketika
sedang bersamanya?. Oh mungkin karena aku baru saja merasakan bagaimana
memiliki seorang teman.
Keesokan
harinya, tidak banyak yang berubah dengan keseharianku. Aku tetaplah aku yang
dulu, cowok yang kaku. Kebetulan bel masuk sudah berbunyi 10 menit yang lalu.
Namun saat kutengok ke belakang ternyata bangku Tisya belum terjamah sama
sekali. Kemana dia ya? Tanyaku dalam hati. Ibu Riska pun tiba - tiba datang dan
membawa kabar buruk untuk murid seisi kelas. Apalagi jika bukan Ulangan
Mendadak untuk mata pelajaran fisika.
"Hari
ini kita post test ya, soalnya essay! Harap diisi dengan cara
pengerjaannya!" Ujar Bu Riska pada seisi kelas.
Tak
ada yang berani protes pada Bu Riska meskipun ulangan tersebut mendadak. Karena
Ibu Riska merupakan wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan. Hal tersebut
membuat semua murid segan kepadanya. Aku pun mulai mengerjakan soal - soal
tersebut, untunglah memang hobiku adalah membaca dan belajar membuatku tidak
merasa kesulitan jika sekalipun ada ulangan mendadak seperti ini. Di kala aku
sedang begitu larut mengerjakan soal - soal. Seseorang dengan tergesa - gesa
tiba - tiba masuk dan membuyarkan konsentrasi dari seisi kelas.
"Hhh,,
hhh,, hhh,, Maaf bu saya telat." Ternyata orang tersebut adalah Tisya.
"Kamu
tau sekarang jam berapa?" Tanya Bu Riska padanya. Dari raut wajahnya
keliatannya Bu Riska tampak jengkel dan kesal.
"Iya
bu maaf, saya tadi telat bangun." Ujar Tisya menjelaskan alasan ia
terlambat.
"Okey!
Kali ini ibu maafkan karena kamu adalah murid baru. Mungkin kamu belum terlalu
memahami mengenai tata tertib di sekolah ini. Untuk ke depannya jika kesalahan
kamu terulang lagi tidak akan saya maklumi kembali. Sekarang kamu boleh duduk
dan langsung saja mengerjakan soal ulangan." Bu Riska pun memberi
keringanan padanya, karena memaklumi bahwa Tisya adalah murid baru di sekolah
ini.
"Baik
bu, terimakasih." Ucap Tisya dan langsung duduk di bangkunya.
Tak
terasa waktu pengerjaan soal pun telah habis. Semua murid pun mengumpulkan
lembar jawabannya ke depan meja guru untuk langsung diperiksa oleh Bu Riska.
Dan tibalah saatnya Bu Riska mengumumkan nilai dari hasil pengerjaan post test
tersebut. Kulihat raut wajah teman - temanku tampak begitu cemas berbeda dengan
aku dan Tisya. Tisya sendiri memang seperti biasanya selalu santai tanpa
meninggalkan kesan angkuhnya. Sementara aku, ya biasa saja karena aku merasa
percaya diri dengan apa yang aku kerjakan.
"Dan
seperti biasa nilai tertinggi yaitu 100 dan berhasil diraih oleh Novan
Steffano. Ibu harap kalian semua dapat termotivasi oleh Novan karena ia selalu
mendapatkan niai sempurna saat ulangan." Ujar Bu Riska sembari tersenyum
kepadaku.
"Namun,
jika ada nilai tertinggi pasti ada pula nilai terrendah, yaitu 0."
Mendengat itu, aku pun mengernyitkan dahi karena setahuku serendah - rendahnya
nilai saat ulangan di kelasku. Tidak ada yang pernah mendapatkan nilai nol.
"Dan
kali ini nilai tersebut diraih oleh Latisya Aqilla Zamora. Karena dia tidak
mengisi sama sekali lembar jawaban yang sudah ibu berikan. Ibu mau bertanya,
kenapa kamu tidak mengisi sama sekali lembar jawabannya? Apakah kamu tidak
mengahargai ibu sebagai guru di sini?" Tanya Bu Riska yang tampak begitu
kesal.
"Bukan
begitu bu. Saya ini cinta lingkungan saya nggak mau menghambur - hamburkan
kertas buat ditulis bu. Kasihan pohon - pohonnya, semakin banyak kita menghamburkan
kertas maka bakal banyak banget pohon yang ditebang dan bumi kita semakin dekat
dengan ambang kehancuran." Ujar Tisya menjelaskan alasannya.
"HAHAHAHAHAHA"
"Otaknya
ditaro dimana sih?!"
"Dia
ngelawak guys!"
Kelas
pun menjadi ricuh dan ribut ketika mendengar jawaban dari Tisya. Aku sendiri
tak habis fikir, jalan fikiran dari seorang Latisya itu seperti apa. Bisa -
bisanya dia menjawab pertanyaan guru dengan jawaban yang begitu konyol dan di
luar akal menurutku. Aku pun ikut larut dengan tawa seisi kelas.
"Sudah
- sudah jangan jadi ribut! Untuk Latisya pada jam istirahat harap temui ibu di
rulang wakasek." Ujar Bu Riska menenangkan seisi kelas sembari
memperingatkan Tisya.
Tak lama kemudian bel pulang pun
berbunyi. Bersamaan dengan itu, Bu Riska terlihat mulai meninggalkan kelas
diikuti dengan Tisya yang mengekor di belakangnya. Aku tak habis fikir mengapa
fikiran Tisya bisa sedangkal itu. Sepertinya dia tidak memiliki urat malu juga
sopam santun terhadap siapapun. Hal tersebut semakin meyakinkan ku untuk jangan
sampai jatuh cinta padanya.
****
Hari
demi hari pun terus berganti kemudian berganti menjadi minggu ke minggu hingga
bulan demi bulan pun juga berganti. Namun hari - hariku tak lagi sama seperti
dulu. Kini aku hanya dapat terbaring lemah di ranjang rumah sakit tanpa bisa
melakukan apapun. Untuk makan saja aku membutuhkan bantuan dari orang lain. Aku
pun sebelumnya tak pernah mengira takdirku akan seperti ini. Untungnya ada
seseorang yang selalu menemaniku setiap harinya, gadis yang selama satu bulan
ini menjadi kekasihku. Ya, dia adalah Adinda Tiffana ia merupakan ketua dari
ekstrakurikuler bahasa asing du sekolahku. Namanya tentu sudah sangat terkenal
baik di mata murid ataupun guru, karena ia merupakan siswi yang telah banyak
sekali meraih prestasi. Selain itu dia juga cantik dan sangat sopan sekali,
sungguh ia memang benar - benar kriteriaku.
Dan
aku pun sangat berterimakasih kepada temanku, siapalagi kalau bukan Tisya.
Karena berkat dialah aku dapat dekat hingga akhirnya mampu memenangkan hati
seorang Adinda Tiffana. Tentunya saat aku masih dalam keadaan sehat, tepatnya
satu bulan yang lalu. Tisya sendiri tidak terlalu sering menjengukku bahkan
sangat jarang. Jujur aku merasa sedikit kehilangan, karena ia lah satu -
satunya orang yang dapat aku anggao sebagai teman. Tapi aku memakluminya,
mungkin sekarang ia memiliki kesibukan lain. Namun aku benar - benar penasaran
dan ingin tahu bagaimana kabarnya. Akhirnya aku pun mencoba bertanya pada
Dinda.
"Din,
Tisya kemana ya? Kok jarang sekali menjenguk saya?" Tanyaku pada Dinda.
"Tisya
ada kok, dia kan lagi sibuk seleksi basket buat turnamen" Ujarnya
menjawab.
"Oh
gitu ya."
Waktu
pun terus berjalan dan keadaanku semakin tak karuan. Aku divonis dokter bahwa
kanker hati yang aku derita sudah memasuki stadium akhir dan harus segera
mendapatkan transplantasi hati. Sungguh pada saat itu aku hanya bisa pasrah dan
berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hingga akhirnya aku tak lagi sadarkan
diri.
Saat
terbangun, aku pun tampak aneh dengan keadaan di sekitarku. Bagaimana bisa aku
tiba - tiba berada di sekitaran sungai yang terdapat air terjun. Aku pun
mencoba berjalan dengan sedikit tenaga yang bisa ku kerahkan. Dan diujung sana
kulihat ada seorang gadis sedang duduk di atas batu, ia tampaknya sedang akan menghanyutkan
sesuatu. Aku pun berlari menghampirinya, saat ku amati lebih seksama ternyata
gadis itu adalah Tisya aku pun berteriak untuk memanggilnya.
"TISYAAAAA!"
Seruku berteriak memanggil namanya.
Kulihat
ia hanya tersenyum kemudian melambaikan tangan kepadaku. Namun sial, kakiku
tiba - tiba saja tersandung batu dan membuatku terpeleset ke dalam sungai. Aku
tak tahu lagi harus bagaimana, tenagaku sama sekali tak cukup untuk berenang
melawan arus sungai yang begitu deras. Aku pun pasrah, mungkin aku memang harus
mati saat ini juga.
Aku pun mencoba untuk membuka mata
perlahan - lahan. Cahaya pun masuk sedikit demi sedikit ke dalam mataku.
Membuatku dapat melihat dengan jelas bahwa ternyata aku masih di kamar yang
sama saat terakhir aku mulai tak sadarkan diri. Kulihat ada Bunda yang
tersenyum kepadaku.
"Alhamdulillah
kamu sudah sadar nak! Bunda khawatir sekali karena kamu sudah koma dari 2
minggu yang lalu." Ucap Bunda seraya langsung memelukku.
Aku
pun hanya diam sambil membalas pelukan Bunda. Dan terus berfikir apa yang telah
aku lewatkan dan terjadi selama 2 minggu aku tak sadarkan diri. Dan entah
kenapa aku merasakan ada sesuatu hal yang terasa hilang dalam hidupku,aku juga
tak tahu dan bingung hal apa yag membuatku merasa seperti itu. Namun dibalik
itu aku sangat merasa bersyukur karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk
tetap hidup di dunia ini. Ku lihat juga ada Dinda yang nampak tersenyum
kepadaku. Namun aku tak melihat Tisya disana, aku benar - benar sangat
merindukan temanku tersebut. Apakah dia tidak merasa khawatir padaku, padahal
kan aku adalah temannya. Aku pun mencoba bertanya pada Dinda dimana Tisya
berada.
"Din,
Tisya dimana sih? Masa dia belum menengok saya." Tanyaku pada Dinda.
"Dia
gak bisa nengok ke sini. Besok aja kita ketemu Tisya ya." Jawabnya padaku.
Keesokan
harinya aku pun bersiap - siap dengan Dinda untuk pergi menemui Tisya. Karena
aku belum mampu untuk berjalan, aku pun dituntun dengan menggunakan kursi roda.
Kami pun segera berangkat menggunakan mobil membelah jalanan Kota Bandung.
Sesampainya di tempat yang kami tuju aku pun tampak heran dengan tempat ini.
Apa Dinda tak salah membawaku ke sini untuk bertemh dengan Tisya.
"Din,
apa kita tidak salah tujuan? Apa iya Tisya ada disini." Tanyaku begitu
penasaran.
"Iya
gak salah kok. Emang bener Tisya ada disini, udah ikutin aja aku."
Jawabnya sambil terus mendorong kursi rodaku.
Kulihat
dikejauhan ada sebuah kuburan yang tanahnya masih merah dan banyak ditaburi
dengan bunga - bunga. Apakah Tisya sudah? Aku pun menepis jauh - jauh fikiran
tersebut. Namun semakin dekat dan lebih aku dapat membaca nama yang terpampang
di pusara tersebut.
DEG!
Aku
kaget bukan main melihat nama yang terpampang disana. Karena disana tertulis
satu - satunya nama temanku, Latisya Aqilla Zamora. Aku pun reflek berdiri dari
kursi roda dan dengan kekuatan yang bisa ku kerahkan aku langsung berlari
menuju kuburan tersebut. Aku pun terjatuh tepat di depan pusaranya, air mata
pun tak lagi dapat ku bendung dan keluar begitu saja dengan derasnya.
"DIN!
APA - APAAN INI? KENAPA SEMUA BISA KAYA GINI?"
"Iya
Nov! Tisya udah gak ada karena dia kecelakaan saat tahu kamu koma 2 minggu yang
lalu. Dan karena kecelakaan itu kakinya diamputasi, dia ngerasa kalaupun dia
hidup udah gak ada gunanya lagi. Dan akhirnya dia donorin hati dia buat kamu
Nov!" Ujar Dinda berterus terang sambil terus menangis.
"Dia
juga nitipin surat ini buat kamu Nov." Dinda pun tampak memberikan sepucuk
surat kepadaku.
Aku
pun membuka surat itu dan mulai membacanya. Tidak banyak yang tertulis disana
hanya berberapa kalimat saja.
"Gue
gak pinter merangkai kata, maap ya Nov hehe. Jaga baik - baik hati gue ya, loe
jangan sampai sakit hati. Cukup gue aja yang sakit hati ngeliat loe sama Dinda.
Tapi sekarang gue seneng kok karena hati gue udah ada di tubuh loe. Hati gue
milik loe sekarang, pokoknya jaga baik - baik hati gue ya jangan disakitin lagi
kaya dulu wkwk. Dadahhhh gue pergi ya. - Tisya"
Dadaku
pun terasa begitu sesak sakit saat selesai membaca surat itu. Mungkin tak ada kata
lagi yang dapat mendefinisikan betapa sakit hatinya aku saat itu. Aku pun
begitu menyesal akan itu semua, menyesal berbohong pada diri sendiri. Aku hanya
mengikuti kata fikiran tanpa mengikuti apa maunya kata hati. Namun semuanya
sudah terlambat, benar - benar terlambat. Kini Tisya telah pergi menyisakan
hatinya di tubuhku untuk tetap membuatku hidup di dunia ini.
*****
Aku
pun tersenyum mengingat kenangan - kenangan tersebut. Ku berikan bukket bunga
dan menyimpannya disamping pusara yang bertuliskan nama Latisya Aqilla Zamora.
"Saya pamit ya Tis! Baik - baik
ya disana, terimakasih atas hati yang telah kamu berikan kepada saya. Mungkin
ini semua memang terlambat tapi sebenarnya saya sangat menyayangi kamu, maaf
saya belum sempat mengatakan secara langsung." Setelah berpamitan padanya
aku pergi meninggalkan tempat itu.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar